Serial Netflix Terbaru Bertemakan Zombie “All of Us Are Dead”: Fenomena Bullying di Sekolah Menjadi Penyebab Hancurnya Dunia

Serial Netflix All of Us Are Dead: Fenomena Bullying di Sekolah Menjadi Penyebab Hancurnya Dunia

Diposting pada

Serial Netflix zombie All of Us Are Dead tentang Bullyin anak sekolahanAll of Us Are Dead merupakan serial Netflix terbaru yang tayang sejak tanggal 28 Januari 2022. Pada awal perilisannya terdapat 8 episode, dan sekarang sudah final menjadi total adalah 12 episode di musim pertamanya.

Dibintangi oleh aktris dan aktor cilik yang beberapa telah memperoleh penghargaan, namun juga terdapat beberapa aktor yang melakukan debut pertamanya di serial All of Us Are Dead.

Mengambil tema tentang zombie, serial All of Us Are Dead menyuguhkan alur cerita yang jauh lebih segar dan baru dibandingkan film zombie pada umumnya.

Penokohan yang diambil dalam serial All of Us Are Dead, adalah sekumpulan anak remaja SMA di mana mereka harus bertahan hidup ketika di sekolahnya merupakan sumber lokasi pertama tersebarnya infeksi virus zombie tersebut.

Penempatan latar waktu dalam serial All of Us Are Dead dibuat sangat realistis karena berlatarkan sekarang, masa paska pandemik Covid-19 dan sempat masuk ke dalam dialog skenario.

Itulah mengapa ketika menonton serial All of Us Are Dead akan terasa seperti bayangan jika terjadi penyebaran virus zombie di dunia nyata, maka ilustrasinya akan seperti film All of Us Are Dead.

 

Fenomena bullying di sekolah dalam serial Netflix All of Us Are Dead

Latar Belakang Cerita Serial All of Us Are Dead

Meski terdengar klise, telah terdapat banyak drama yang membahas tentang isu bullying di sekolah, tetapi All of Us Are Dead menggiring drama tentang bullying ke dalam tema thriller tentang zombie.

Kombinasi antara dua tema tersebut menjadi sesuatu yang baru di dunia perfilman. Banyak film-film zombie identik dengan horor dan adegan sadis—thriller.

Sedangkan All of Us Are Dead dibungkus dengan kemasan yang mencekam penuh darah, namun dalam waktu bersamaan juga penuh warna kehidupan remaja.

Penonton akan disuguhkan kampanye tentang isu bullying yang dalam film ini menimbulkan dampak serius hingga mengubah dunia menjadi lebih tragis.

Premis yang digambarkan adalah tentang bagaimana sekelompok perundung yang memiliki power lebih kuat akan kalah oleh mereka yang menjadi korban aktivitas bullying tersebut.

Mereka para perundung yang membuat dunia menjadi suram bagi korbannya, maka dalam seketika berubah menjadi dunia yang jauh lebih menyeramkan lagi karena amarah salah satu dari korban perundungan.

Dalam serial All of Us Are Dead, konflik antara perundung dan korbannya diibaratkan sebagai konflik antara kucing dengan tikus yang selalu bertengkar.

Tokoh yang menjadi seorang ilmuwan dalam serial All of Us Are Dead merupakan dalang dibalik penciptaan virus baru dalam serial ini. Virus tersebutlah yang menginfeksi manusia menjadi sosok mayat hidup, zombie.

 

Setika seorang ayah ingin menyelamatkan anaknya dalam All of Us Are Dead

Kasih Sayang Seorang Ayah yang Tidak Ingin Anaknya Selalu Dirundung

Tidak dapat dipungkiri, layaknya bullying di dunia nyata, yang korbannya selalu saja merupakan sosok yang jauh lebih lemah daripada si Perundung.

Entah karena memang secara fisik jauh lebih lemah, atau ketidakmampuannya membentuk kelompok pertahanan dalam lingkaran sosial, sehingga menjadi target empuk perundungan di sekolah.

Dalam serial All of Us Are Dead pun demikian, si Korban perundungan tidak memiliki fisik yang kuat untuk melawan sekelompok perundung.

Untung saja takdir masih berada di pihaknya, di mana ia memiliki sosok seorang Ayah yang jenius dan mampu membuat experiment obat untuk membuat sang Anak menjadi lebih kuat.

Sayangnya tidak seperti yang diharapkan, experiment sains tidak berjalan yang seperti yang diharapkan.

Sebuah pernyataan yang diungkapkan oleh Sang Ayah dalam dialognya, “daripada mati sebagai manusia, lebih baik bertahan sebagai monster.”

Dapat dilihat betapa Sang Ayah begitu sayang pada putranya dan mengharapkan putranya mampu untuk melawan.

 

Fenomena bullying di sekolah dalam setial Netflix All of Us Are Dead

Ketika Dunia Terbalik: Kaum yang Lemah Menjadi Lebih Kuat Sedangkan Para Perundung Kalah

Alur cerita yang paling menggelitik dalam serial All of Us Are Dead, adalah penggambaran dunia di mana kaum yang menjadi korban perundungan kini berkesempatan untuk menjadi penguasa.

Dalam serial All of Us Are Dead, mereka yang sering dirundung memiliki kekebalan tubuh yang mampu melawan virus yang menginfeksi tubuhnya. Lebih dari itu, mampu menjaga kontrol otak agar tubuh mereka tidak mati dikuasai oleh virus.

Semua tokoh yang menjadi korban perundungan merasa kuat dan dunia bukanlah lagi tempat yang menyeramkan.

Dimulai dari adegan ketika Min-Eun Ji, ingin melakukan bunuh diri dengan melompat dari rooftop sekolah. Tapi aksi bunuh diri tersebut tercegah saat ia melihat para siswa sekolah melompat memecahkan jendela dari lantai atas sekolah.

Melihat keadaan yang sudah kacau, Min-Eun Ji sadar bahwa dunia yang sedetik lalu ia anggap suram berubah menampakkan kekejiannya.

Saat Min-Eun Ji tergigit dan terinfeksi, dirinya tidak berubah menjadi mayat hidup, zombie, melainkan tetap di bawah kendali sadarnya dengan tambahan kekuatan super.

Min-Eun Ji seketika puas melihat para perundung yang telah menyiksa hari-harinya telah berubah menjadi sosok mayat hidup seakan menampakkan kekejian mereka selama ini.

Demikian artikel tentang hormon kebahagian dari Tumbooh.com, silahkan share ke teman temanmu jika artikel ini bermanfaat. terimaksih.

Sumber foto: Photo from Imdb

Gambar Gravatar
Just chill and read