Bisnis Konveksi: Perkembangan Pesat Industri Tekstil Lokal serta Dunia

Bisnis Konveksi: Perkembangan Pesat Industri Tekstil Lokal serta Dunia

Diposting pada

Kapas, kain, tekstil, serat, semua diproduksi oleh pabrik. Kita selalu menginginkan pakaian mewah dan berlabel, tapi tanpa mengetahui bawah pabrik Industri Tekstil merupakan penghasil polusi terparah kedua di dunia setelah pabrik minyak.

Kita terlena dengan indahnya pola seni yang dibentuk pada pakaian. Cotton yang menjadi bahan baku produksi sandang tersebut juga memiliki tekstur yang amat lembut yang membuat kita nyaman. Meski kini cotton terdiri dari dua jenis serat, sintetis dan alami.

Industri Tekstil sangat menjanjikan dalam mendongkrak kondisi ekonomi sebuah negara, maka tidak aneh jika sebuah negara bisa sukses pendapatan perkapitanya hanya karena memproduksi banyak sekali jenis tekstil.

Perkembangan Industri Tekstil Berbagai Negara di Dunia

Memproduksi pakaian vegan atau eco-friendly menjadi tren di Industri Tekstil. Tren selalu mendikte kemana perginya industry. Menilai mana yang tampak baik dan mana yang tampak buruk. Mana yang akan bertahan dan mana yang akan sukses melewati setiap musimnya.

Biasanya tren tekstil akan berubah setiap 6 bulannya di Industri Tekstil. Orang-orang hanya jatuh cinta pada pakaian dalam jangka waktu satu musim saja, lalu membuangnya. Padahal kebiasaan membuang barang akan mencemarkan lingkungan.

Itulah alasan mengapa perusahaan konveksi modis kini memproduksi pakaian atau busana lainnya dengan sistem daur ulang

Industri Tekstil dunia berkembang hingga bisa mencapai pendapatan hingga 3 triliun dollar. Tingginya permintaan dan luasnya pilihan berbagai macam produk membuat industri ini berkembang sangat pesat di dunia.

8 juta pakaian selalu diproduksi setiap tahunnya di seluruh dunia. Mempekerjakan 75 juta orang di dunia. Brand seperti Nike merupakan salah satu brand bidang mode menjadi pengekspor terbesar di dunia.

Bangladesh Negara dengan Penghasilan Terendah dalam Industri Tekstil di Dunia

Bangladesh merupakan negara berkembang yang mengandalkan pengembangan Industri Tekstil dan mode sebagai penunjang penghasilan. Selain populasinya berada di bawah garis kemiskinan, karena masyarakat Bangladesh diberikan upah rendah. Industri Tekstil juga satu-satunya pekerjaan yang tersedia banyak di Bangladesh.

Selain di Bangladesh, di negara Maroko dan India pun para pekerja konveksi menerima upah yang rendah di Industri Tekstil. Orang-orang yang ingin terjun menjadi perancang busana mungkin akan berpikir, bagaimana jika aku pergi saja ke Eropa terutama Inggris?

Tidak ada perbedaan yang berarti di Inggris. Para pekerja konveksi pun menerima upah rendah di Inggris. Mungkin hanya sekitar US$11 dollar setiap jamnya.

Perusahaan besar dunia seperti Zara dan H&M memanfaatkan Bangladesh untuk membangun pabrik pakaian di negara tersebut. Mengetahui mampu memproduksi pakaian dengan modal yang lebih rendah, maka dapat menjaga harga tetap stabil terjangkau.

Pada tahun 1972, Bank Dunia memperkirakan produk domestik bruto (PDB) Bangladesh sebesar US$6,29 miliar, dan tumbuh menjadi US$368 miliar pada tahun 2021, dengan US$46 miliar di antaranya dihasilkan oleh ekspor, 82% di antaranya adalah pakaian

Bangladesh adalah pengekspor pakaian terbesar kedua di dunia untuk merek mode dari barat. Enam puluh persen dari kontrak ekspor merk barat dengan pembeli Eropa dan sekitar tiga puluh persen dengan pembeli Amerika dan sepuluh persen dengan yang lain.

Pasar Industri Tekstil India Mampu Mencapai $226 Miliar Pada Tahun 2023

Industri Tekstil merupakan sektor tertua di India sejak 3.000 tahun lalu. Sejarawan N.K. Chaudhuri menyebutkan bahwa Eropa merupakan sekutu dagang tekstil utama India, bahkan sejak sebelum abad ke-18.

Saat India memasuki fase pasar liberal, Industri Tekstil mampu mengalami pertumbuhan yang cukup massif. Awal tahun 1990, pertumbuhan ekonomi India mencapai angka 6% hingga menyumbang 7,5% PDB.

Menurut Centre for Environment Education & Industrial Pollution Prevention Group tahun 2016, setidaknya terdapat kurang lebih 45 juta orang di India yang bekerja di Industri Tekstil.

Menurut Indeks Pakaian Ritel dari AT Kearney, India menduduki peringkat sebagai pasar paling menjanjikan keempat untuk pengecer pakaian pada tahun 2009

Selama April 2000 – Juni 2019, total investasi asing untuk Industri Tekstil di India mencapai US$3,2 miliar.

Ekspor tekstil India juga diprediksi akan mencapai angka US$300 miliar di tahun 2024.

baca juga :

Perkembangan Industri Tekstil Lokal

Di Indonesia sendiri masih banyak masyarakat hedonis untuk membeli banyak pakaian. Industri Tekstil di Indonesia merupakan salah satu sektor penghasil devisa ekspor yang kian pesat dan menjanjikan pertumbuhannya

Sebagian lokasi Industri Tekstil berada di Pulau Jawa, terutama di jawa Barat dan Daerah khusus Ibu kota.

Akan tetapi usaha tekstil di Indonesia masih kalah saing dari Cina. Sejak tahun 2009, kain-kain asal Cina secara besar-besaran membanjiri pasar Indonesia.

Memasuki tahun 2019, proses dagang Industri Tekstil lokal menemukan titik terangnya,

“Berdasarkan peta jalan Making Indonesia 4.0, Industri Tekstil dan pakaian sebagai satu dari lima sektor manufaktur yang menjadi prioritas dalam pengembangannya.

Terutama dalam kesiapan memasuki era industri 4.0, karena dengan pemanfaatan teknologi industri 4.0, akan mendorong peningkatan produktivitas sektor industri secara lebih efisien,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Rosa Vivien Ratnawati pun juga sudah mengungkapkan mengenai masalah sampah tekstil yang dapat didayagunakan.

Data Agustus 2021 dari 292 kabupaten di Indonesia menunjukkan bahwa ada 1,7 juta ton sampah tekstil per tahun.

Sesuai dengan rencana pengembangan Industri Tekstil dengan mengikuti perkembangan zaman dan teknologi.

Pada tahun 2021, pemerintahan Indonesia mengeluarkan peraturan pemerintah mengenai sustainable fashion.

Peraturan pemerintah nomor 28 tahun 2021, tentang penyelenggaraan bidang perindustrian serta telah diterapkan roadmap making Indonesia 4.0 dengan fokus pada industri recycle polyester dan staple fiber. 

Artinya Indonesia turut andil dalam meminimalisir pencemaran lingkungan di dunia dengan cara mendaur ulang bahan pakaian.

Pada tahun 2020, Indonesia telah menjadi pengekspor produk tekstil terbesar di dunia dengan menduduki peringkat 10 besar dunia dan akan terus berkembang hingga tahun 2030.

Peluang Memulai Bisnis Konveksi di Industri Tekstil Lokal

Peluang untuk membuka bisnis di Indonesia tidak begitu sulit. Banyak area di mana kita bisa dengan mudah membuka stan untuk menjual produk mode kita. Seperti Tanah Abang hingga pasar kaget di jalanan.

Bahkan tidak sedikit juga brand menjual produknya secara online di Media Sosial. Percantik akun Sosial Media perusahaan, tawarkan ke orang-orang terdekat terlebih dahulu, membuat website, dan seiring berjalannya waktu orang akan tertarik dengan produk kita. Jika terasa sulit bisa menyewa jasa Digital Marketer.

Di hari-hari liburan nasional, seperti lebaran dan natal, banyak pengusaha konveksi dan mode yang juga memanfaatkan kesempatan ini. Mereka akan berbondong-bondong mengobral produk.

Kisaran dana bisa dimulai dari angka 2 hingga 15 juta. Perhitungan modal bisa dimulai dari menyesuaikan peralatan produksi, tempat sewa, pegawai, dan biaya pemasaran.

Demikian artikel tentang hormon kebahagian dari Tumbooh.com, silahkan share ke teman temanmu jika artikel ini bermanfaat. terimakasih.

Sumber foto: Foto oleh Pixabay dari Pexels

Gambar Gravatar
Just chill and read