Photo by Leah Kelley from Pexels

Membangun Hubungan Sehat dengan Feminisme

Diposting pada

Banyak anggapan jika perempuan dan laki-laki feminis tidak cocok untuk menjadi pasangan. Stereotip perempuan feminis dalam hubungan sering dikaitkan dengan anggapan “tidak menarik”, “terlalu mengatur-ngatur”, “tidak romantis” dan anggapan negatif lainnya.

Namun, studi yang dilakukan oleh Laurie Rudman dan Julie Phelan dari Rutgers University membuktikan bahwa pasangan feminis lebih memiliki hubungan yang sehat dan stabil. Studi itu membuktikan bahwa nilai feminisme dalam hubungan heteroseksual memiliki pengaruh yang baik, berlawanan dengan stereotip yang tersebar di masyarakat.

Feminisme berusaha menentang patriarki yang merugikan perempuan. Banyak perempuan dalam hubungan laki-laki patriarkis merasa tertekan karena kontrol dan dominasi dari pasangannya.

Nilai feminisme utama dalam hubungan meliputi kesetaraan dan persetujuan (konsen). Dengan feminisme, hubungan percintaan dan pernikahan bisa lebih bahagia dan sehat, baik bagi laki-laki maupun perempuan.

Ciri Hubungan yang Sehat

Memiliki hubungan percintaan atau pernikahan yang langgeng dan bahagia adalah dambaan setiap orang. Kenali ciri hubungan yang sehat menurut psychology today berikut!

  1. Saling percaya
  2. Komunikasi yang sehat, terbuka, tanpa penilaian berlebihan
  3. Saling kompromi dan empati
  4. Saling Mencintai dan Tertarik satu sama lain
  5. Fleksibel (tidak mengutamakan ego dan kontrol)
  6. Apresiasi yang cukup kepada pasangan
  7. Memiliki cukup ruang untuk perkembangan pribadi
  8. Saling menghargai
  9. Saling membantu saat dibutuhkan
  10. Penyelesaian konflik yang sehat
  11. Menghargai batasan individu pasangan
  12. Saling terbuka dan jujur

Cara Membangun Hubungan Sehat dengan Feminisme

Feminisme bukan hanya sebuah ideologi. Kamu bisa menerapkan nilai-nilai feminisme ke dalam hubungan agar lebih sehat dan bahagia.

Berikut nilai feminisme yang bisa kamu terapkan dalam hubungan percintaan dan pernikahan.

1. Pentingnya Konsen

Konsen adalah permintaan persetujuan untuk menyentuh tubuh pasangan hingga izin untuk berhubungan seksual. Kedua pihak tidak hanya meng-iya-kan, tetapi juga harus senang, antusias, dan merasa nyaman.

Konsen tidak boleh disertai ancaman dan manipulasi. Keduanya harus secara sadar memberikan konsen, tidak dibawah pengaruh obat-obatan atau alkohol yang membuatnya tidak sadar. Konsen juga bisa dibatalkan ketika pasanganmu merasa tidak nyaman.

Di dalam konsen, kamu dan pasangan belajar untuk mengerti keadaan masing-masing. Jika pasanganmu berkata tidak, kamu tidak boleh memaksakan kehendaknya. Konsen mengajarkan untuk menghormati keputusan dan pendapat pasangan.

Konsen juga bernilai hukum. Bukan berarti jika kamu di dalam sebuah hubungan otomatis pasanganmu ingin berhubungan seksual denganmu. Selalu minta persetujuan sebagai bentuk menghargai otoritas tubuh, prinsip, dan nilai yang dipegang pasangan.

2. Sadar akan Kesetaraan

Di dalam budaya patriarki tradisional, laki-laki ditempatkan sebagai individu yang lebih baik dan dominan dalam hubungan. Laki-laki memegang kontrol terhadap pasangannya dan hubungan secara keseluruhan. Relasi kuasa ini bisa merugikan pihak perempuan. Perempuan jadi tidak memiliki suara dan keputusan yang setara dalam menentukan arah hubungan.

Selain dapat menghilangkan percaya diri perempuan, dominasi dan kontrol berlebihan tanpa disertai kesadaran kesetaraan bisa melukai perempuan secara fisik.

3. Tidak Ada Toxic Masculinity

Toxic masculinity atau maskulinitas beracun adalah konsep dan ekspektasi yang mengharuskan laki-laki menjadi yang lebih dominan, tidak boleh berekspresi sedih, dan harus selalu kuat. Contoh tindakan toxic masculinity yang dilakukan laki-laki adalah terlalu mengontrol perempuan, misalnya tidak boleh bertemu teman-teman dan rekan kerjanya. Laki-laki dengan toxic masculinity juga menganggap pasangannya “miliknya” dibandingkan seorang individu yang memiliki kesibukan dan waktu mereka sendiri.

Tidak hanya merugikan perempuan, laki-laki juga dirugikan dari konsep toxic masculinity, lho. Misalnya saja ketika laki-laki dituntut untuk tetap kuat dan tidak menangis saat disakiti. Ini bisa berbahaya pada kesehatan mental laki-laki. Lagipula laki-laki juga berhak untuk mengekspresikan dirinya, termasuk menangis. Dengan feminisme, toxic masculinity diharapkan tidak dilanggengkan.

Cara menghindari toxic masculinity adalah menganggap laki-laki juga berhak untuk menangis dan lemah sesekali. Dengan menerapkan cara tersebut, laki-laki akan lebih nyaman menceritakan kesedihannya. Perempuan juga merasa dihargai secara individu karena tidak ada yang saling mengontrol. Dengan begitu, hubungan kalian akan lebih menyenangkan dan stabil.

4. Komunikasi yang Sehat

Dalam feminisme, tidak ada yang lebih baik atau dominan dari pasangannya. Keduanya memiliki posisi setara.

Kesetaraan ini memungkinkan kedua pihak bisa berdiskusi secara terbuka, bukan malah perempuan yang selalu menurut dan tidak memiliki pendapat. Di hubungan yang menerapkan nilai feminisme, komunikasi dan negosiasi penting untuk memahami keinginan dan kebutuhan satu sama lain.

Berbeda pada laki-laki yang memiliki tingkat ego tinggi di hubungan non-feminis. Biasanya di hubungan non-feminis, laki-laki akan lebih memiliki kontrol terhadap pasangan perempuan dan hubungan secara keseluruhan dibandingkan perempuannya. Padahal membina rumah tangga dan percintaan memerlukan dua pendapat, bukan salah satunya saja, bukan?

Maka terapkan komunikasi sehingga tidak ada ruang untuk asumsi dan ekspektasi yang bisa melukai pasanganmu.

5. Saling Menghargai Batasan Personal

Setiap orang memiliki prinsip dan nilai yang berbeda. Ketika kamu dalam hubungan feminis yang sehat, kamu perlu mengenali preferensi pasanganmu. Menghargai batasan personal masing-masing akan membuat kalian saling menghormati dan menghargai.

Menghargai batasan personal bisa juga dengan memberikan ruang kepada masing-masing untuk menyendiri (me time). Ketika semuanya terasa overwhelming dan membutuhkan istirahat dari argumen, kamu tidak boleh mengekang pasanganmu. Beri waktu dan ruang yang cukup untuk pasangan mencintai dirinya sendiri (self love) sehingga ia bisa menyesuaikan diri dengan lebih baik akan kehadiranmu dalam hidupnya.

Ketika batasan personal dilanggar, salah satu pasti akan merasa tidak nyaman. Pasanganmu bisa jadi menganggapmu orang yang suka memaksakan kehendak dan tidak menghargai preferensinya. Bisa-bisa ketika kamu terus memaksakan, ia malah memilih untuk pergi memutuskanmu.

6. Terbuka dengan Perasaan dan Emosi Pasangan

Dalam hubungan feminis, tidak ada ekspektasi terhadap pasangan sesuai dengan stereotip tradisional. Artinya, laki-laki boleh menangis dan perempuan boleh menjadi dominan kapan pun.

Pada hubungan feminis, kamu akan lebih terbuka terhadap cara pasanganmu mengekspresikan emosi senang, sedih, dan marah. Kerapuhan yang ditunjukkan bukan tanda kelemahan tetapi ekspresi wajar oleh manusia.

Pasangan yang baik tidak akan mengejekmu saat rapuh. Sebaliknya, pasangan yang baik dalam hubungan feminis adalah yang bisa mengerti perasaanmu dan memvalidasi rasa sedihmu. Kamu bisa dengan nyaman mengekspresikan diri tanpa rasa takut dan malu.

Penutup

Feminisme tidak hanya bermanfaat bagi perempuan, tetapi juga berbamnfaat bagi laki-laki dalam sebuah hubungan. Kamu bisa mewujudkan hubungan yang sehat dengan menerapkan feminisme di atas versi Tumbooh.

Apalagi nilai feminisme yang bisa diterapkan di dalam hubungan? Komentar di bawah ya!

Jika kamu merasa informasi ini penting, bagikan juga ke pasangan dan temanmu agar memiliki hubungan yang lebih sehat!

Gambar Gravatar
Suka nonton film